Teknologi Pengenalan Kode QR (Quick Response)

Kode QR berkembang dari sebuah permintaan pengguna. Sekitar tahun 1960-an di Jepang yang tengah mengalami pertumbuhan ekonomi tinggi memiliki banyak pasar swalayan. sayangnya kode satu dimensi ini hanya dapat menampung sekitar 20 karakter alfanumerik. Keadaan ini membuat kode batang tidak berfungsi maksimal. Masahiro Hara bersama satu orang anggota timnya mengembangkan kode QR dari barcode yang hanya 1 arah (horizontal) menjadi 2 arah (horizontal dan vertikal). Mereka juga mengusahakan agar kode ini tetap dapat dibaca dengan cepat. Hara mendapatkan ide untuk membuat penanda posisi kode, yang pada akhirnya berbentuk 3 kotak di tepi kode QR. Penanda itu membuat kode QR dapat dipindai dari berbagai sisi tanpa kesalahan. Kode QR mampu menyimpan hingga 7.089 karakter numerik, 4.296 karakter alfanumerik, 2.844 byte kode biner, dan 1.817 karakter huruf kanji. Tidak hanya mengandung banyak karakter, kode QR dibaca dengan cepat, bahkan 10 kali lebih cepat dibanding sistem kode lainnya. Kode ini kemudian digunakan industri otomotif, mulai sistem komunikasi, hingga efesiensi pengiriman dan slip transaksi. Sejak saat itu kode QR semakin banyak digunakan di industri Jepang.

Kode QR (Quick Response) merupakan suatu merek dagang untuk jenis barcode matrix (barcode dua dimensi). Dalam penggunaannya, kode QR sering memuat data untuk pelacak yang akan mengarah ke situs web atau aplikasi, untuk pelacakan produk, pemasaran umum, identifikasi barang, pelacakan waktu, hingga manajemen dokumen

Kode QR (Quick Response) menggunakan empat mode pengodean standar, yaitu numerik, alfanumerik, byte atau biner, dan kanji. Guna menyimpan data secra efisien, maka ekstensi juga dapat digunakan.

Kode QR (Quick Response) sendiri terdiri dari kotak hitam yang disusun dalam kotak persegi pada latar belakang putih, yang dapat dibaca oleh perangkat pencitraan seperti kamera, dan diproses menggunakan koreksi kesalahan Reed-Solomon hingga gambar dapat ditafsirkan dengan tepat. Data yang diperlukan kemudian diekstraksi dari pola yang ada di komponen horisontal dan vertikal gambar.

Dalam penerapannya, tentu Teknologi pengenalan kode QR ini memiliki kelebihan dan kekurangan, berikut ini adalah beberapa kelebihan dan kekurangannya:

Kelebihan menggunakan Teknologi pengenalan kode QR:

  1. Ukuran kecil
  2. Sistem dapat cepat memberikan respon terkait hasil scan.
  3. Tidak perlu membeli perangkat khusus scan kode QR tersedia kode QR scanner gratis
  4. Menghemat kertas
  5. Gratis dalam pembuatan dan penggunaannya

Kekurangan menggunakan Teknologi pengenalan kode QR:

  1. Pengguna smartphone harus download aplikasi QR Code Scanner terlebih dahulu.
  2. Kode QR hanya mudah diakses oleh pengguna smartphone.

Meskipun kode QR masih menggunakan konfigurasi kode, sama seperti pengembangan terdahulunya, yaitu barcode, kedua kode ini memiliki perbedaan dari segi bentuk serta penggunaannya. barcode lebih dulu ditemukan dan dalam praktiknya sering digunakan untuk mengurutkan sebuah produk mengikut jenis dan harganya. Sedangkan kode QR adalah temuan baru yang hadir mengikuti perkembangan teknologi sehingga dapat memuat banyak informasi dan mudah dibaca serta dipindai dengan perangkat pintar

Kode QR dapat dibaca menggunakan berbagai software gratis yang tersedia pada berbagai platform. Gunakan kata kunci “QR Code Scanner” atau “QR Code Reader” di Google Play Store atau Apple App Store.

Besaran data yang dapat disimpan bervariasi, tergantung pada ukuran kode kode QR, versi kode QR, serta tingkat Error Correction Capability kode QR yang kita download.

Error Correction Capability (ECC) menunjukkan batasan kode QR masih dapat terbaca ketika terjadi kerusakan pada kode QR tersebut. Kode QR dapat rusak ketika dicetak dan diletakkan pada kemasan produk dapat rusak.

Leave a Comment